Skip to main content
StudiesOctober 5, 20254 min read

Cakupan Imunisasi Turun, Campak Merenggut Nyawa

Hanya 56,4 persen anak usia 12–23 bulan di Indonesia yang sudah mendapat imunisasi lengkap. Sepanjang 2025–2026, tercatat 72 kematian akibat campak — sebagian besar balita tanpa riwayat imunisasi.

Hanya 56,4 persen anak usia 12–23 bulan di Indonesia yang sudah mendapat imunisasi lengkap. Sepanjang 2025–2026, tercatat 72 kematian akibat campak — sebagian besar balita tanpa riwayat imunisasi.

Data WHO (2025) menunjukkan hanya sekitar 56,4 persen anak usia 12–23 bulan di Indonesia yang sudah mendapat imunisasi lengkap. Artinya hampir separuh anak Indonesia belum terlindungi sepenuhnya dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Konsekuensinya sudah terlihat. Sepanjang 2025–2026, Indonesia mencatat 72 kematian akibat campak, dan sebagian besar korbannya adalah balita tanpa riwayat imunisasi campak.

Di balik angka itu ada kasus-kasus yang konkret. Seorang bayi berusia satu tahun dirawat karena campak, sempat mengalami kejang akibat komplikasi, dan akhirnya meninggal. Pada Desember 2025, seorang bayi berusia enam bulan terkena campak dengan demam tinggi dan gangguan pernapasan hingga harus dirawat intensif di ICU.

Campak bukan sekadar ruam

Campak sering dianggap penyakit anak yang ringan dan akan sembuh sendiri. Anggapan itu keliru.

Virus campak sangat mudah menular, bahkan lebih menular dibanding COVID-19. Satu orang yang terinfeksi bisa menularkan ke sekitar 9–10 orang lain dari segala usia.

Gejala awalnya berupa demam tinggi, batuk pilek, mata merah, dan ruam merah yang menyebar. Namun komplikasinya bisa berat: infeksi telinga, pneumonia atau radang paru, diare, ensefalitis atau radang otak, hingga kebutaan dan kematian.

Membandingkan risiko secara jujur

Salah satu alasan orang tua menunda imunisasi adalah kekhawatiran terhadap efek samping, terutama demam. Kekhawatiran itu wajar dan pantas dijawab dengan data, bukan dengan ejekan.

Mari bandingkan.

Efek samping imunisasi (KIPI)

Komplikasi penyakit campak

Gejala umum

Demam ringan, kemerahan di bekas suntikan

Demam tinggi (>39°C), batuk parah, ruam di hampir seluruh tubuh

Durasi

Biasanya hilang dalam 1–2 hari

Bisa berlangsung 7–14 hari atau lebih

Bahaya lanjutan

Jarang terjadi reaksi berat

Pneumonia, ensefalitis, hingga kebutaan

Risiko kematian

'Hampir nol, jarang ada yang secara langsung disebabkan oleh vaksin campak.

Nyata, terutama pada balita yang tidak divaksin

Demam ringan setelah imunisasi bukan tanda vaksin berbahaya. Itu tanda sistem imun sedang bekerja membentuk perlindungan.

Kenapa cakupan sulit lengkap

Menyalahkan orang tua adalah penjelasan yang paling mudah dan paling tidak akurat. Ada hambatan sistemik yang lebih menentukan:

Akses layanan yang jauh. Bagi keluarga di wilayah terpencil, satu kali kunjungan imunisasi bisa berarti kehilangan satu hari kerja dan ongkos transportasi yang tidak sedikit.

Kendala logistik. Stok vaksin kosong adalah keluhan yang berulang. Rantai dingin yang tidak terjaga membuat vaksin kehilangan mutu sebelum sampai.

Sistem digital yang belum merata. Aplikasi pencatatan seperti SatuSehat belum berjalan optimal di semua daerah, sehingga status imunisasi anak sulit dilacak dan pengingat tidak sampai.

Efek pandemi yang belum pulih. Penurunan cakupan selama pandemi belum sepenuhnya dikejar.

Pembiayaan yang rentan. Program imunisasi nasional membutuhkan anggaran besar setiap tahun untuk pengadaan vaksin, pelatihan tenaga kesehatan, dan menjaga rantai dingin. Sekitar 80 persen pembiayaannya bergantung pada APBN. Ketika sebagian dana tersebut dialihkan ke program lain, yang terdampak bukan hanya angka cakupan, melainkan anak-anak yang tidak terlindungi.

Momen yang perlu diwaspadai

Menjelang libur panjang dan hari raya, mobilitas warga meningkat tajam. Kumpul keluarga, perjalanan dengan transportasi umum, dan kebiasaan menggendong atau mencium balita saat silaturahmi mempercepat penyebaran campak.

Ini bukan alasan untuk tidak bersilaturahmi, tetapi alasan untuk memastikan status imunisasi anak lengkap sebelum musim mudik.

Sikap LaporSehat

  1. Lindungi anggaran imunisasi dari pengalihan. Pembiayaan imunisasi nasional harus dinyatakan sebagai pos prioritas yang tidak dapat digeser ke program lain.
  2. Perbaiki rantai pasok dan rantai dingin vaksin, dengan pemantauan stok yang transparan sampai tingkat puskesmas.
  3. Benahi sistem pencatatan digital agar status imunisasi anak dapat dilacak dan pengingat otomatis berjalan, termasuk di daerah dengan konektivitas terbatas.
  4. Strategi khusus untuk daerah cakupan rendah: jemput bola, pos imunisasi keliling, dan pelibatan tokoh masyarakat serta tokoh agama setempat.
  5. Komunikasi risiko yang jujur dan tidak menghakimi. Orang tua yang ragu perlu dijawab dengan data dan waktu, bukan dengan tekanan.
  6. Publikasikan data cakupan imunisasi per kabupaten/kota secara berkala agar pemerintah daerah dan warga bisa memantau.

Investasi terbaik sebuah bangsa adalah anak-anak yang sehat.

Yang bisa kamu lakukan

  • Cek status imunisasi anak. Pastikan sudah lengkap sesuai jadwal. Untuk campak: dosis 1 pada usia 9 bulan, dosis 2 (booster) pada usia 18 bulan, dan dosis 3 pada kelas 1 SD (usia 5–7 tahun).
  • Kalau ada dosis yang terlewat, jangan mengulang dari awal. Datang ke puskesmas dan tanyakan jadwal kejar imunisasi.
  • Saat berkumpul keluarga, gunakan masker jika sedang tidak sehat, cuci tangan sesering mungkin, dan hindari membiarkan balita digendong atau dicium sembarang orang.
  • Kalau anak demam setelah imunisasi, itu umumnya wajar dan berlangsung singkat. Kompres hangat, cukupi cairan, dan hubungi tenaga kesehatan bila demam tinggi atau berlangsung lebih dari dua hari.
  • Bantu tetangga yang kesulitan akses. Kadang yang dibutuhkan hanya tumpangan ke posyandu.

Sumber & catatan: WHO (2025); Kementerian Kesehatan RI; CDC; Strategi Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029 (Kemenkes, 2025).

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat