Skip to main content
Press ReleasesMay 5, 20255 min read

Kalender Penyakit Musiman Indonesia: Apa yang Perlu Diwaspadai dan Kapan

Penyakit menular di Indonesia punya pola musiman yang cukup bisa diprediksi. Artikel rujukan ini merangkum apa yang perlu diwaspadai pada tiap musim, gejalanya, dan langkah pencegahannya.

Penyakit menular di Indonesia punya pola musiman yang cukup bisa diprediksi. Artikel rujukan ini merangkum apa yang perlu diwaspadai pada tiap musim, gejalanya, dan langkah pencegahannya.

Sebagian besar penyakit menular di Indonesia mengikuti pola yang cukup bisa diprediksi, dipengaruhi curah hujan, suhu, mobilitas warga, dan kalender sosial seperti musim mudik dan libur panjang.

Musim hujan dan pancaroba

Demam berdarah dengue (DBD)

DBD adalah ancaman yang paling konsisten. Pada awal 2025 saja, Indonesia mencatat lebih dari 6.000 kasus DBD dengan 28 kematian.

Penting dipahami: DBD bisa muncul kapan saja selama ada nyamuk Aedes aegypti. Kemarau panjang justru bisa memicu lonjakan, karena warga menyimpan air dalam wadah terbuka.

Nyamuk Aedes bertelur di air jernih yang menggenang: bukan di got kotor. Ember, talang air, pot tanaman, dispenser, tutup botol, dan mainan anak di halaman bisa menjadi tempat berkembang biak tanpa disadari. Rumah bersih belum tentu bebas nyamuk.

Gejala yang perlu diwaspadai: demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, mual, serta munculnya ruam atau bintik merah. Jangan menunggu parah, segera periksa ke tenaga kesehatan.

DBD bukan hanya penyakit anak-anak. Orang dewasa dan lansia juga berisiko, apalagi jika daya tahan tubuh sedang lemah.

Pencegahan, 3M Plus:

  • Menguras tempat penampungan air secara rutin
  • Menutup rapat semua wadah air
  • Mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air
  • Plus: gunakan lotion anti nyamuk atau kelambu saat tidur, pasang kawat nyamuk di ventilasi, dan tanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai wangi atau lavender

Leptospirosis

Penyakit yang sering terlewat, terutama setelah banjir.

Leptospirosis adalah infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui air atau tanah yang tercemar urin hewan, terutama tikus.

Cara penularan: melalui kulit yang luka atau lecet, kontak langsung dengan air banjir atau lumpur, dan meminum air yang terkontaminasi.

Gejala muncul 5–14 hari setelah terpapar: demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot terutama di betis dan punggung, mata memerah, serta mual, muntah, dan diare.

Pencegahan: hindari genangan air banjir; gunakan sepatu bot dan sarung tangan saat harus bersentuhan dengan air atau lumpur; tutup luka dengan balutan tahan air; jaga kebersihan lingkungan dari tikus; rebus air sebelum diminum.

Segera periksakan diri jika setelah kontak dengan air banjir kamu mengalami demam, nyeri otot, dan mata merah. Leptospirosis bisa diobati dengan antibiotik jika ditangani sejak dini dan bisa fatal jika terlambat.

Musim mudik dan libur panjang

Campak

Mobilitas tinggi dan kerumunan keluarga mempercepat penularan campak, yang menular lebih mudah dibanding COVID-19. Satu orang yang terinfeksi bisa menularkan ke 9–10 orang lain.

Sepanjang 2025–2026, Indonesia mencatat 72 kematian akibat campak, sebagian besar balita tanpa riwayat imunisasi.

Sebelum mudik: pastikan status imunisasi anak lengkap. Gunakan masker di kerumunan dan transportasi umum. Cuci tangan sesering mungkin. Hindari membiarkan balita digendong atau dicium sembarang orang saat silaturahmi.

Kecelakaan lalu lintas

Bukan penyakit menular, tetapi penyebab kematian yang meningkat tajam pada musim mudik. Data Korlantas Polri mencatat kenaikan jumlah korban meninggal yang signifikan dari 2023 ke 2024.

Faktor penyebab utamanya konsisten: kelalaian dan kurang disiplin berlalu lintas, kecepatan tinggi, kondisi kendaraan yang tidak terawat, dan distraksi saat berkendara, termasuk mengemudi dalam kondisi mengantuk.

Musim kemarau dan karhutla

ISPA akibat kabut asap

Cuaca kering dan angin kencang mempercepat penyebaran asap kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap membawa partikel PM2.5 yang cukup kecil untuk masuk jauh ke dalam paru-paru.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang gangguan pernapasan paling rentan.

Pencegahan: pantau kualitas udara dan titik panas melalui SiPongi; gunakan masker yang sesuai saat kualitas udara buruk; kurangi aktivitas luar ruangan; tutup celah ventilasi saat asap pekat; pastikan asupan cairan cukup.

Sepanjang tahun

Influenza dan varian yang perlu dipantau

Virus influenza A (H3N2) subclade K, yang sempat dikenal publik sebagai "super flu" pernah terdeteksi menyebar di delapan provinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus tertinggi di Jawa Timur.

Kemenkes menyebut kelompok usia 1–10 tahun sebagai yang paling berisiko, menyumbang sekitar 35 persen kasus.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pencegahan paling efektif adalah pola hidup bersih dan sehat: mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker jika sakit, menutup mulut saat batuk, serta imunisasi untuk balita.

Tuberkulosis

TBC tidak musiman, tetapi merupakan beban penyakit menular terbesar Indonesia, peringkat kedua dunia, dengan angka yang terus naik. Waspadai batuk lebih dari dua minggu.

Penyakit yang perlu kewaspadaan dini

Virus Nipah. Penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang menjadi perhatian karena bisa menyebar antar-manusia dan memiliki tingkat kematian yang tinggi (dilaporkan berkisar 40–75 persen menurut WHO).

Meskipun belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan diperlukan karena Indonesia memiliki kondisi yang serupa dengan wilayah tempat kasus pernah muncul: iklim tropis serta interaksi manusia dan satwa yang tinggi. Negara tetangga seperti Thailand telah menerapkan skrining di bandara sebagai langkah pencegahan dini.

Yang bisa dilakukan: memantau informasi dari sumber terpercaya, tidak panik berlebihan, menjaga kebersihan, dan menghindari kontak dengan hewan yang sakit.

COVID-19. Lonjakan kasus di negara-negara Asia lain pernah mendorong Kemenkes mengeluarkan himbauan kewaspadaan. Meskipun situasi di Indonesia relatif terkendali, kewaspadaan tetap perlu, terutama bagi yang akan bepergian ke luar negeri, dan pemerintah perlu memperkuat pengawasan di pintu masuk negara.

Sikap LaporSehat

  1. Surveilans yang kuat dan transparan. Data kasus penyakit menular per daerah harus dipublikasikan berkala agar warga dan pemerintah daerah dapat bersiap.
  2. Peringatan dini yang terhubung dengan prakiraan iklim. Informasi BMKG perlu diterjemahkan menjadi imbauan kesehatan yang konkret.
  3. Kesiapan puskesmas menghadapi lonjakan musiman: stok obat, kapasitas laboratorium, dan protokol rujukan.
  4. Program pengendalian vektor yang berkelanjutan, bukan pengasapan reaktif setelah ada korban.
  5. Kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonosis, termasuk skrining di pintu masuk dan penguatan pendekatan One Health.

Yang bisa kamu lakukan

  • Simpan artikel ini dan tinjau kembali setiap pergantian musim.
  • Kenali gejala yang tidak boleh ditunda: demam tinggi yang tidak turun, sesak napas, penurunan kesadaran, perdarahan, dan dehidrasi berat.
  • Lengkapi imunisasi keluarga. Ini perlindungan dengan biaya terendah dan manfaat tertinggi.
  • Bersih-bersih lingkungan bersama tetangga. Pengendalian nyamuk tidak bisa berhasil kalau hanya satu rumah yang melakukannya.
  • Butuh konsultasi awal? Telekonsultasi gratis tersedia di Rumah Sehat Rakyat Virtual lewat WhatsApp 0851-7510-4544 atau s.id/rsr-wb.

Sumber & catatan: Kementerian Kesehatan RI; WHO; CDC; IDAI; Korlantas Polri; SiPongi (KLHK); CNN Indonesia; RSUD Buleleng.

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat