Skip to main content
StudiesMay 25, 20254 min read

Rokok, Makanan Cepat Saji, dan Gizi yang Tersisih dari Meja Makan

Data BPS menunjukkan pengeluaran rumah tangga Indonesia untuk rokok dan makanan jadi melampaui pengeluaran untuk beras, ikan, dan sayuran. Tetapi menyalahkan selera adalah penjelasan yang terlalu mudah.

Data BPS menunjukkan pengeluaran rumah tangga Indonesia untuk rokok dan makanan jadi melampaui pengeluaran untuk beras, ikan, dan sayuran. Tetapi menyalahkan selera adalah penjelasan yang terlalu mudah.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia sekitar Rp764,9 ribu per bulan. Dari jumlah itu:

  • Sekitar 12 persen atau Rp91 ribu digunakan untuk membeli rokok
  • Sekitar Rp246 ribu untuk makanan dan minuman jadi

Bandingkan dengan pengeluaran untuk bahan pangan segar:

  • Beras: sekitar Rp89,8 ribu
  • Ikan dan seafood: sekitar Rp61,9 ribu
  • Sayuran: sekitar Rp55,9 ribu

Artinya, pengeluaran untuk rokok saja hampir setara dengan pengeluaran untuk beras. Dan pengeluaran untuk makanan jadi melampaui semuanya.

Apa yang bisa dibeli dengan uang yang sama

Untuk memberi gambaran konkret:

  • Rp246 ribu yang dibelanjakan untuk makanan cepat saji setara dengan sekitar 1,7 kilogram daging sapi segar
  • Rp91 ribu yang dibelanjakan untuk rokok setara dengan sekitar 2,9 kilogram telur ayam

Telur adalah salah satu sumber protein paling murah dan paling lengkap yang tersedia. Tiga kilogram telur per bulan bisa mengubah asupan protein satu keluarga secara signifikan, terutama untuk anak dan remaja putri, dua kelompok dengan angka anemia tinggi di Indonesia.

Tetapi menyalahkan selera adalah jalan pintas

Mudah sekali membaca data ini sebagai bukti bahwa masyarakat salah memilih. Kesimpulan itu tidak lengkap dan tidak adil.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan 11,8 persen masyarakat tidak makan buah atau sayur sama sekali dalam seminggu. Ketika ditanya alasannya, jawabannya menyusun gambaran yang berbeda dari asumsi umum:

  • 61,8 persen, buah tidak tersedia (soal stok atau harga)
  • 28,6 persen, tidak mampu membeli
  • 25,4 persen, tidak suka
  • 9,5 persen, bosan atau malas
  • 1,8 persen, tidak merasakan manfaatnya

Dua alasan teratas adalah akses dan harga, bukan selera. Ini negara agraris, dan sebagian besar warganya tidak makan buah karena buahnya tidak tersedia atau terlalu mahal.

Persoalannya jelas bukan cuma soal selera. Ini soal akses dan kebijakan.

Mengapa rokok dan makanan olahan menang

Ada alasan struktural mengapa pola belanja bergerak ke arah ini:

Rokok bersifat adiktif. Ketergantungan nikotin membuat pengeluaran ini menjadi hampir tidak elastis, ia dipertahankan bahkan ketika pendapatan turun, dan yang dikorbankan justru pos lain, termasuk pangan.

Harga rokok di Indonesia relatif murah dibanding banyak negara lain, dan tersedia dalam kemasan eceran yang terjangkau setiap hari.

Makanan olahan lebih tahan lama, lebih mudah, dan sering lebih murah per kalori dibanding memasak dari bahan segar, terutama bagi rumah tangga tanpa kulkas, dengan dapur terbatas, atau dengan jam kerja panjang.

Pemasarannya masif, termasuk kepada anak-anak dan remaja.

Rantai distribusi pangan segar tidak efisien, sehingga harga di tingkat konsumen tinggi sementara petani menerima sedikit.

Dampaknya berlapis

Pola ini menjelaskan sebagian besar persoalan gizi Indonesia hari ini: stunting yang belum tuntas, anemia pada remaja putri, obesitas dan hipertensi yang meningkat pada anak, dan lonjakan penyakit tidak menular pada usia produktif.

Beban ekonominya juga besar. Uang yang habis untuk rokok pada hari ini kembali sebagai biaya pengobatan penyakit jantung, paru, dan kanker beberapa dekade kemudian — sebagian besar ditanggung sistem jaminan kesehatan nasional.

Sikap LaporSehat

  1. Naikkan cukai rokok secara signifikan dan konsisten, karena harga adalah instrumen paling efektif menurunkan konsumsi, terutama pada remaja dan kelompok berpendapatan rendah.
  2. Larang total iklan, promosi, dan sponsor rokok, termasuk di ruang digital.
  3. Perkuat layanan berhenti merokok di puskesmas, gratis dan mudah diakses. Ketergantungan adalah kondisi medis, dan orang yang ingin berhenti membutuhkan dukungan, bukan ceramah.
  4. Perbaiki rantai distribusi pangan segar agar harga di tingkat konsumen turun dan petani menerima lebih banyak.
  5. Program pangan segar terjangkau untuk rumah tangga berpendapatan rendah, termasuk penguatan pasar rakyat dan skema subsidi yang menyasar pangan bergizi.
  6. Batasi pemasaran makanan tinggi gula, garam, dan lemak kepada anak, di sekolah maupun di media.
  7. Ukur akses, bukan hanya konsumsi. Data kebijakan gizi perlu memasukkan ketersediaan dan keterjangkauan pangan segar di tingkat lokal.

Yang bisa kamu lakukan

  • Beli sayur dan buah lokal yang sedang musim dari pasar tradisional. Harganya lebih murah, lebih segar, dan mendukung petani kecil. Buah musiman bisa berbeda harganya berkali lipat dari buah impor dengan nilai gizi yang setara.
  • Masak dalam jumlah lebih besar sekaligus. Ini menghemat waktu dan bahan bakar, dua alasan terbesar orang beralih ke makanan jadi.
  • Kalau kamu merokok dan ingin berhenti, puskesmas menyediakan layanan berhenti merokok. Berhenti sendiri sulit, dan itu bukan kegagalan pribadi, dukungan meningkatkan peluang berhasil secara nyata.
  • Hitung sekali saja. Coba catat pengeluaran rokok atau makanan jadi selama satu bulan, lalu lihat angkanya. Banyak orang terkejut, dan angka itu sering lebih meyakinkan daripada nasihat siapa pun.
  • Bagikan informasi ini ke keluarga. Edukasi gizi adalah bentuk kasih sayang.

Sumber & catatan: Badan Pusat Statistik (2024); Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat