Skip to main content
StudiesOctober 15, 20254 min read

Tuberkulosis: Peringkat Dua Dunia, Vaksin Baru, dan Pekerjaan Rumah yang Menumpuk

Indonesia menempati posisi kedua kasus TBC terbanyak di dunia dan angkanya terus naik. Vaksin baru sedang diuji klinis di sini. Yang perlu dipastikan sejak sekarang: siapa yang akan menanggung biayanya nanti.

Indonesia menempati posisi kedua kasus TBC terbanyak di dunia dan angkanya terus naik. Vaksin baru sedang diuji klinis di sini. Yang perlu dipastikan sejak sekarang: siapa yang akan menanggung biayanya nanti.

Indonesia termasuk tiga besar negara dengan kasus tuberkulosis tertinggi di dunia, berada di posisi kedua setelah India. Yang mengkhawatirkan bukan hanya posisinya, tetapi arah pergerakannya:

  • 2022: sekitar 724.000 kasus
  • 2023: sekitar 809.000 kasus
  • 2024: sekitar 1.060.000 kasus

Kasus TBC juga menyebar cukup merata di seluruh wilayah Indonesia, ini bukan persoalan satu dua provinsi.

Mengenal TBC secukupnya

Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi bisa juga menyebar ke organ tubuh lain.

Cara penularannya lewat udara. Ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau bahkan berbicara, bakteri TBC bisa keluar dan terhirup oleh orang lain. Penularan biasanya terjadi setelah kontak erat dan sering dalam waktu lama, bukan dari satu papasan singkat.

Gejalanya muncul perlahan, sehingga sering tidak disadari. Yang perlu diwaspadai: batuk terus-menerus lebih dari dua minggu, kadang berdahak atau berdarah; badan lemas; demam ringan; berkeringat di malam hari; dan berat badan turun drastis tanpa sebab jelas.

TBC bisa disembuhkan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diminum rutin selama minimal enam bulan. Obatnya gratis di puskesmas dan fasilitas kesehatan lain.

Dua kekeliruan yang mahal

Pertama, mengira obat herbal bisa menggantikan OAT. Tidak bisa. TBC hanya dapat diobati dengan OAT dari tenaga kesehatan, dan harus diminum teratur sampai tuntas. Menunda pengobatan yang benar berarti memperpanjang masa menular dan memperberat kerusakan paru.

Kedua, berhenti minum obat setelah merasa membaik. Ini kekeliruan yang paling berbahaya. Gejala membaik jauh sebelum bakteri benar-benar hilang. Putus obat di tengah jalan membuat bakteri menjadi kebal, kondisi yang disebut TBC resisten obat (TBC RO). Pengobatannya jauh lebih lama, lebih berat efek sampingnya, dan jauh lebih mahal bagi sistem kesehatan.

Vaksin baru dan pertanyaan yang harus diajukan sekarang

Vaksin TBC baru (dikenal sebagai M72) sedang menjalani uji klinis di tujuh negara, termasuk Indonesia. Dengan beban TBC yang besar dan sebaran kasus yang merata, Indonesia memang menjadi lokasi yang secara ilmiah strategis untuk uji klinis.

Uji klinis vaksin berlangsung dalam beberapa tahap:

  • Fase 1: pengujian pada manusia dalam skala kecil (sekitar 20–50 orang) untuk melihat efek samping dan respons imun tubuh.
  • Fase 2: skala lebih besar (sekitar 200–300 orang), memberi informasi keselamatan tambahan tentang efek samping dan risiko.
  • Fase 3: tahap akhir sebelum vaksin digunakan luas. Di Indonesia dilaporkan sekitar 2.095 partisipan usia remaja dan dewasa direkrut dalam uji klinis vaksin TBC.

Kami mendukung riset vaksin. Tetapi ada dua hal yang tidak boleh ditunda sampai vaksinnya jadi.

Pertama, pengawasan keselamatan peserta. Kita tidak lupa bahwa saat vaksin COVID-19 pertama kali diberikan, banyak masyarakat mengeluhkan efek samping dan sebagian merasa laporannya tidak didengar. Pemerintah wajib membangun sistem pelaporan yang aktif, tanggap, dan mudah diakses oleh peserta uji klinis sejak sekarang, bukan setelah ada keluhan.

Kedua, jaminan bahwa vaksin ini tidak dikomersialisasi secara memberatkan. Vaksin ini dikembangkan lewat kerja sama internasional, dan masyarakat Indonesia menjadi bagian dari proses uji klinisnya. Warga yang ikut menanggung risiko pengembangan tidak seharusnya kemudian diminta "membeli kembali" hasilnya. Tujuan mengakhiri TBC di Indonesia akan sia-sia jika masyarakat dibebani secara finansial untuk mengaksesnya.

Pekerjaan rumah yang lebih mendasar

Vaksin, kalaupun berhasil, tidak akan menyelesaikan TBC sendirian. Penyakit ini bertahan karena kondisi yang lebih luas: hunian padat dan berventilasi buruk, gizi yang kurang, akses layanan yang jauh, dan pendampingan pengobatan yang lemah sehingga banyak pasien putus obat.

Karena itu pemantauan kami terhadap penanganan TBC selalu terhubung dengan isu lain: anggaran kesehatan desa yang tergerus, layanan primer yang lemah, dan program gizi yang tidak sesuai kebutuhan pasien.

Sikap LaporSehat

  1. Perkuat sistem farmakovigilans dan pelaporan efek samping untuk uji klinis vaksin, dengan kanal yang aktif menjangkau peserta, bukan menunggu laporan masuk.
  2. Jaminan akses vaksin tanpa beban finansial bagi masyarakat, dengan komitmen tertulis sejak tahap uji klinis.
  3. Komunikasi publik yang jujur. Sampaikan manfaat dan risiko secara terbuka, jangan abaikan laporan dari lapangan, dan libatkan media secara transparan. Kepercayaan publik dibangun bertahun-tahun dan hilang dalam satu insiden yang ditutupi.
  4. Perkuat penemuan kasus aktif dan pendampingan pengobatan hingga tuntas, terutama lewat kader kesehatan di tingkat desa yang membutuhkan insentif dan dukungan yang layak.
  5. Dukungan gizi yang sesuai untuk pasien TBC: diet tinggi kalori dan tinggi protein berbasis makanan segar, dengan pembatasan kontak yang tetap terjaga. Bukan skema distribusi massal.
  6. Perbaikan hunian dan ventilasi sebagai bagian dari strategi pengendalian TBC, bukan urusan sektor terpisah.

Yang bisa kamu lakukan

  • Kenali gejalanya. Batuk lebih dari dua minggu bukan hal biasa. Segera periksa ke puskesmas, pemeriksaan dan obatnya gratis.
  • Kalau sudah mulai berobat, jangan putus di tengah jalan. Enam bulan terasa lama, tetapi jauh lebih pendek daripada pengobatan TBC resisten obat.
  • Terapkan etika batuk: tutup mulut dan hidung, gunakan masker saat sakit, dan pastikan ruangan berventilasi baik.
  • Pastikan bayi mendapat vaksinasi BCG sesuai jadwal.
  • Dampingi anggota keluarga yang sedang berobat. Dukungan orang terdekat adalah faktor terbesar yang menentukan seseorang menuntaskan pengobatan.
  • Jangan menjauhi penyintas TBC. Stigma membuat orang menunda memeriksakan diri, dan penundaan itulah yang memperluas penularan.

Sumber & catatan: Kemenkes RI (sehatnegeriku.kemkes.go.id); WHO; Tempo; VOI.

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat