Skip to main content
StudiesNovember 15, 20254 min read

Long COVID Itu Nyata: 200 Gejala, Jutaan Penyintas, dan Kekosongan Kebijakan

Lebih dari empat tahun setelah pandemi, banyak penyintas masih hidup dengan kelelahan kronis, brain fog, dan sesak napas. Di banyak negara Long COVID sudah diakui sebagai kondisi medis. Di Indonesia, belum ada panduan resmi dan karenanya belum ada data.

Lebih dari empat tahun setelah pandemi, banyak penyintas masih hidup dengan kelelahan kronis, brain fog, dan sesak napas. Di banyak negara Long COVID sudah diakui sebagai kondisi medis. Di Indonesia, belum ada panduan resmi dan karenanya belum ada data.

Sesak napas yang datang tanpa sebab. Sulit mengingat kata yang biasa dipakai sehari-hari. Jantung berdebar saat berdiri. Lelah yang tidak hilang meski sudah tidur cukup.

Bagi sebagian orang, gejala-gejala ini muncul berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Dan bagi banyak dari mereka, respons yang paling sering diterima adalah: "mungkin kamu cuma cemas."

Long COVID nyata. Dan penyintasnya tidak sedikit.

Apa itu Long COVID

Long COVID adalah kondisi ketika gejala COVID-19 masih dirasakan seseorang lebih dari tiga bulan setelah infeksi, dan dapat berlanjut hingga bertahun-tahun. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat telah menggolongkannya sebagai kondisi kronis.

Estimasi kumulatif insiden global dari Institute for Health Metrics and Evaluation (2024) menyebut lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia terdampak Long COVID.

WHO mencatat lebih dari 200 gejala yang dilaporkan. Yang paling sering muncul antara lain kelelahan berlebihan, gangguan kognitif atau brain fog, sesak napas, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, gangguan tidur, jantung berdebar, pusing saat berdiri, perubahan indera perasa dan penciuman, gangguan pencernaan, tinnitus, dan ruam kulit.

Sebagian besar penyintas mengalami lebih dari satu gejala sekaligus.

Apa yang kami temukan

LaporSehat bersama komunitas Covid Survivor Indonesia (CSI) melakukan kajian terhadap pengalaman penyintas. Beberapa temuan pentingnya:

Gejalanya bertahan sangat lama. Long COVID dapat dialami hingga enam bulan, lebih dari satu tahun, bahkan lebih dari dua tahun setelah infeksi awal.

Prevalensinya tinggi di dalam komunitas penyintas. Dalam komunitas CSI, sekitar 60 persen dari sekitar 3.100 anggota mengalami dua atau lebih gejala Long COVID.

Gejala yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan berlebihan, kesulitan konsentrasi, jantung berdebar, dan gangguan tidur dialami baik oleh mereka yang baru sembuh kurang dari enam bulan maupun yang sudah lebih dari dua tahun.

Dampaknya menjalar ke seluruh kehidupan. Aktivitas sosial menjadi terbatas, produktivitas menurun, dan kegiatan sehari-hari terganggu. Keterbatasan aktivitas diri dan sosial pada sebagian penyintas justru meningkat pada tahun kedua pasca infeksi. Kecemasan bertahan dari tahun pertama hingga tahun kedua. Nyeri dan rasa tidak nyaman dapat bertahan lebih dari dua tahun.

Beban terbesarnya sering berupa kelelahan psikologis. Riset Hidayana dkk. (2026) menunjukkan penyintas dengan Long COVID dapat mengalami penurunan kualitas hidup akibat masalah kesehatan mental, bahkan setelah lebih dari 24 bulan. Temuan sejalan disampaikan Dr. Hotma Marogi (peneliti Pusat Biomedis BRIN) mencatat variasi keluhan penyintas, sebagian hanya satu keluhan seperti sesak napas atau kelelahan, sebagian lain menghadapi kombinasi beberapa gangguan sekaligus.

Yang perlu ditegaskan: kelelahan psikologis di sini adalah akibat, bukan sebab. Menyebut Long COVID sebagai "cuma cemas" membalik urutan itu dan membuat penyintas kehilangan akses ke penanganan yang tepat.

Indonesia tertinggal dalam pengakuan

Sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, dan Inggris telah mengakui Long COVID sebagai kondisi medis, dengan panduan klinis dan mekanisme dukungan yang menyertainya.

Di Indonesia, penelusuran kami menunjukkan Long COVID terakhir dibahas secara resmi oleh Kemenkes sekitar 2022, dan saat itu pun belum menjadi agenda prioritas.

Akibatnya berlapis. Tanpa panduan resmi untuk diagnosis, perawatan, dan pengobatan, tenaga kesehatan tidak punya rujukan baku. Tanpa kode diagnosis yang jelas, kasus tidak tercatat. Tanpa pencatatan, tidak ada data resmi jumlah penderita. Dan tanpa data, tidak ada dasar untuk menyusun kebijakan.

Kekosongan ini menciptakan lingkaran tertutup: penyintas tidak terlihat karena tidak dihitung, dan tidak dihitung karena tidak diakui.

Suara penyintas adalah data

Karena itu LaporSehat membangun LongCovid Stories, platform tempat penyintas dapat berbagi pengalaman mereka. Cerita-cerita ini membantu peneliti dan pembuat kebijakan melihat dampak nyata Long COVID di Indonesia dan membantu sesama penyintas memahami bahwa kondisi ini nyata dan mereka tidak sendirian.

Cerita dapat dibagikan sepenuhnya secara anonim. Tidak ada informasi pribadi yang dipublikasikan tanpa persetujuan, dan setiap informasi yang dibagikan hanya digunakan untuk kepentingan advokasi kebijakan.

Bagikan ceritamu: laporsehat.wargaberdaya.org/longcovid/id/

Sikap LaporSehat

  1. Akui Long COVID sebagai kondisi medis dalam sistem kesehatan nasional, dengan definisi kasus dan kode diagnosis yang jelas.
  2. Susun panduan klinis nasional untuk diagnosis, penanganan, dan rujukan Long COVID, disertai pelatihan bagi tenaga kesehatan di layanan primer.
  3. Bangun sistem pencatatan dan pelaporan agar tersedia data resmi jumlah dan karakteristik penderita.
  4. Integrasikan layanan kesehatan jiwa ke dalam penanganan Long COVID, bukan sebagai pengganti penanganan fisik, melainkan sebagai bagian dari perawatan menyeluruh.
  5. Jadikan riset BRIN dan akademisi sebagai acuan kebijakan. Sudah ada penelitian di dalam negeri; yang belum ada adalah jembatan dari riset ke kebijakan.
  6. Pertimbangkan perlindungan ketenagakerjaan bagi penyintas dengan keterbatasan fungsi jangka panjang.

Yang bisa kamu lakukan

  • Jika kamu mengalami gejala, catat: apa gejalanya, kapan muncul, seberapa berat, dan bagaimana pengaruhnya ke aktivitas. Catatan ini membantu tenaga kesehatan dan membantumu sendiri melihat pola.
  • Jangan menyalahkan diri sendiri. Kelelahan yang kamu rasakan bukan kemalasan.
  • Cari pendampingan. Jika masih merasa lelah, sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, nyeri otot, atau kecemasan pasca sembuh dari COVID-19, kamu bisa menghubungi telehealth Rumah Sehat Rakyat Virtual secara gratis melalui s.id/rsr-wb.
  • Bagikan ceritamu di LongCovid Stories. Pengalamanmu adalah bagian dari bukti yang selama ini hilang.
  • Pencegahan Long COVID adalah pencegahan COVID-19: gunakan masker di tempat ramai, pastikan ventilasi ruangan baik, dan jaga kebersihan tangan.

Sumber & catatan: WHO; CDC; Institute for Health Metrics and Evaluation (2024); Hidayana dkk. (2026); Dr. Hotma Marogi, Pusat Biomedis BRIN; kajian LaporSehat bersama Covid Survivor Indonesia.

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat