Skip to main content
Press ReleasesAugust 15, 20254 min read

Menyusui Bukan Urusan Ibu Sendirian: Membangun Sistem Dukungan yang Berkelanjutan

Kegagalan menyusui hampir selalu dibicarakan sebagai kegagalan pribadi ibu. Padahal yang lebih menentukan adalah ada atau tidaknya dukungan, dari pasangan, keluarga, tempat kerja, dan layanan kesehatan.

Kegagalan menyusui hampir selalu dibicarakan sebagai kegagalan pribadi ibu. Padahal yang lebih menentukan adalah ada atau tidaknya dukungan, dari pasangan, keluarga, tempat kerja, dan layanan kesehatan.

Ketika seorang ibu berhenti menyusui lebih cepat dari yang ia rencanakan, penjelasan yang paling sering muncul adalah tentang dirinya: ASI-nya kurang, ia kurang sabar, ia kurang berusaha.

Penjelasan itu hampir selalu keliru arah.

Sebagian besar hambatan menyusui bersifat struktural, nyeri yang tidak tertangani karena tidak ada yang mengoreksi posisi dan pelekatan, kecemasan yang tidak terjawab karena tidak ada tempat bertanya, kembali bekerja tanpa ruang laktasi, dan tekanan dari lingkungan yang menyarankan hal-hal yang bertentangan satu sama lain.

Yang dibutuhkan bukan ibu yang lebih kuat. Yang dibutuhkan adalah sistem dukungan yang bekerja.

Empat lapis dukungan yang menentukan

Lapis pertama: pasangan dan keluarga inti. Ini yang paling menentukan dan paling sering diabaikan. Menyusui pada minggu-minggu awal berarti kurang tidur, nyeri, dan kelelahan. Pasangan yang mengambil alih tugas rumah tangga, bangun malam untuk membantu, dan tidak ikut menyalahkan adalah faktor pelindung yang nyata.

Lapis kedua: konselor menyusui. Banyak masalah menyusui (pelekatan yang salah, puting lecet, kekhawatiran produksi ASI, bingung puting) bisa diselesaikan dalam satu sesi konseling. Masalahnya, layanan ini tidak merata dan sering berbayar.

Lapis ketiga: tempat kerja. Cuti melahirkan yang layak, ruang laktasi, dan waktu memerah adalah prasyarat, bukan fasilitas tambahan. Tanpa ketiganya, target menyusui eksklusif enam bulan bertabrakan langsung dengan realitas ekonomi keluarga.

Lapis keempat: layanan kesehatan dan regulasi. Ini mencakup dukungan menyusui sejak jam pertama setelah lahir, dan penegakan aturan pemasaran susu formula bayi.

Konseling menyusui gratis lewat WhatsApp

Dalam rangka Pekan Menyusui Dunia, Rumah Sehat Rakyat (RSR) Virtual bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) membuka layanan konseling menyusui gratis bersama konselor menyusui bersertifikat.

Layanan tersedia setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB, menyesuaikan jadwal piket konselor.

Cara mendaftar:

  1. Simpan nomor WhatsApp chatbot RSR: 0851-7510-4544
  2. Sapa bot dengan mengetik apa saja, misalnya "halo"
  3. Bot akan mengirimkan beberapa pertanyaan tentang identitas diri dan keluhan kesehatan. Jika ada pilihan jawaban berupa angka, cukup ketik angkanya
  4. Ketik keluhanmu seputar menyusui
  5. Tunggu admin merespons dan mengarahkanmu untuk konsultasi dengan konselor

Konseling dilakukan secara virtual lewat chat WhatsApp. Pastikan jaringan internet stabil dan usahakan merespons dengan cepat agar sesi tidak terputus.

Atau langsung melalui s.id/rsr-wb

Sepanjang 2025, 21 dari 575 konsultasi RSR adalah konseling menyusui bersama AIMI. Angkanya belum besar dan justru itu yang membuat kami ingin lebih banyak ibu tahu bahwa layanan ini ada dan gratis.

Menyusui saat berpuasa

Salah satu pertanyaan yang paling sering masuk: apakah ibu menyusui boleh berpuasa?

Jawabannya bisa, dengan memperhatikan tiga hal utama.

Nutrisi dan cairan. Makan sesuai panduan Isi Piringku, komposisi karbohidrat, protein, dan serat yang seimbang. Ikan, daging, telur, sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, serta buah-buahan seperti alpukat baik untuk mendukung produksi ASI. Yang paling sering terlewat adalah cairan: pastikan asupan air cukup, dibagi merata antara berbuka dan sahur.

Aktivitas. Usahakan tidak beraktivitas terlalu berat dan hindari paparan panas matahari berlebih, karena keduanya mempercepat kehilangan cairan.

Pola menyusui. Tetap berikan ASI ketika bayi terlihat lapar. Menyusui sesuai permintaan bayi justru membantu menjaga produksi.

Kapan sebaiknya tidak berpuasa: jika muncul pusing berlebihan, lemas yang mengganggu, tanda dehidrasi, atau produksi ASI menurun jelas dan bayi tampak tidak puas. Puasa bukan kewajiban yang harus dipaksakan dalam kondisi ini, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Sikap LaporSehat

  1. Cuti melahirkan yang layak dan dapat diakses, termasuk bagi pekerja informal dan pekerja lepas yang selama ini berada di luar skema perlindungan.
  2. Ruang laktasi wajib di tempat kerja dan fasilitas publik, dengan pengawasan kepatuhan yang nyata, bukan sekadar ada di aturan.
  3. Konseling menyusui sebagai layanan dasar di puskesmas dan fasilitas persalinan, tersedia gratis dan diberikan oleh tenaga terlatih.
  4. Penegakan aturan pemasaran susu formula bayi. Pengaturannya sudah berada pada level Peraturan Pemerintah; yang lemah adalah pengawasannya, termasuk di ruang digital dan di dalam fasilitas kesehatan.
  5. Dukungan menyusui sejak jam pertama kelahiran, termasuk inisiasi menyusu dini dan rawat gabung.
  6. Libatkan pasangan dalam konseling menyusui, bukan hanya ibu.

Yang bisa kamu lakukan

Untuk ibu:

  • Kalau menyusui terasa nyeri, itu bukan hal yang harus ditahan. Nyeri hampir selalu berarti ada yang bisa diperbaiki, biasanya posisi dan pelekatan. Cari konselor.
  • Jangan menilai kecukupan ASI dari perasaan atau dari jumlah yang bisa diperah. Ukuran yang lebih andal adalah kenaikan berat badan bayi dan frekuensi buang air kecil.
  • Cari satu sumber informasi yang bisa dipercaya, lalu berpegang pada itu. Terlalu banyak saran yang bertentangan adalah salah satu penyebab terbesar kecemasan.

Untuk pasangan dan keluarga:

  • Ambil alih pekerjaan rumah tangga. Ini bantuan yang paling konkret.
  • Jangan menawarkan susu formula sebagai solusi pertama saat ibu kelelahan. Tawarkan istirahat.
  • Hindari komentar yang membandingkan. "Dulu saya begini" jarang membantu.

Untuk tempat kerja:

  • Ruang laktasi tidak harus mewah. Yang dibutuhkan hanya ruang tertutup, bersih, ada kursi, colokan listrik, dan tidak berupa toilet.

Ibu menyusui tidak butuh dipuji sebagai pahlawan. Mereka butuh dukungan yang berkelanjutan.

Sumber & catatan: Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI); panduan Isi Piringku Kemenkes RI; data layanan Rumah Sehat Rakyat Virtual 2025.

Comments

Leave a Comment

Your email will not be published.

Memuat komentar…

More from LaporSehat