Lewati ke konten utama
Kajian10 Desember 20254 menit baca

El Niño dan Kemarau Panjang: Yang Perlu Disiapkan Sebelum Airnya Habis

Hari ini masih hujan, besok diberitakan kemarau ekstrem. Keduanya bisa benar. El Niño bukan saklar lampu dan justru karena itu, masa transisi adalah waktu terbaik untuk bersiap.

Hari ini masih hujan, besok diberitakan kemarau ekstrem. Keduanya bisa benar. El Niño bukan saklar lampu dan justru karena itu, masa transisi adalah waktu terbaik untuk bersiap.

Pagi hari membaca berita tentang El Niño kuat yang akan membuat Indonesia kering kerontang. Sorenya hujan turun deras. Wajar kalau publik bingung, bahkan curiga informasinya berlebihan.

Kedua hal itu bisa benar bersamaan. El Niño bukan saklar lampu yang sekali dipencet langsung mematikan hujan di seluruh Indonesia.

Cara kerjanya, secara sederhana

El Niño adalah penyimpangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dalam jangka panjang, bukan cuaca harian yang berubah seketika. Ketika ia terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia, kombinasi keduanya menarik awan hujan menjauh dari Indonesia.

Menurut kajian BRIN, kombinasi ini diperkirakan membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan lebih menyengat dari biasanya. Curah hujan bisa turun jauh di bawah normal tetapi tidak menjadi nol. Hujan lokal singkat tetap mungkin muncul karena dinamika cuaca harian.

Fenomena IOD dan ENSO biasanya mulai berkembang dan menguat pada pertengahan tahun, sementara puncak dampaknya baru terasa signifikan sekitar September hingga November. Artinya, masa yang terasa "masih normal" sekarang justru adalah masa persiapan.

Hujan yang turun hari ini mungkin terasa menenangkan, tetapi belum tentu cukup mengisi waduk dan sungai yang akan menyusut tajam saat puncaknya nanti.

Empat jalur dampak ke kesehatan

  1. Krisis air bersih. Sumur warga menyusut, terutama di wilayah selatan Indonesia. Air yang terbatas berarti sanitasi yang menurun, dan sanitasi yang menurun berarti naiknya penyakit diare dan penyakit kulit.
  1. Kebakaran hutan dan lahan, lalu ISPA. Cuaca kering dan angin kencang mempercepat penyebaran asap. Kabut asap membawa partikel PM2.5, partikel yang cukup kecil untuk masuk jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan iritasi hingga infeksi. Anak-anak, lansia, dan penyandang gangguan pernapasan adalah yang paling rentan. Pengalaman di Riau menunjukkan puskesmas menerima lonjakan pasien dengan gejala batuk, pilek, dan sesak napas, sementara sebagian sekolah terpaksa mengizinkan anak belajar dari rumah.
  1. Ancaman pangan dan gizi. Kekeringan di sentra produksi padi seperti Pantura Jawa menurunkan hasil panen dan mendorong harga beras naik. Kenaikan harga pangan pokok berdampak paling keras pada rumah tangga miskin, dan dampaknya muncul sebagai persoalan gizi beberapa bulan kemudian.
  1. Demam berdarah, justru saat kering. Ini yang sering luput. Ketika air langka, warga menyimpan air dalam wadah terbuka. Wadah itu menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang menyukai air jernih menggenang. Kemarau panjang bisa berarti lonjakan DBD, bukan penurunan.

Perlu dicatat pula bahwa dampaknya tidak seragam. Sementara sebagian besar wilayah mengering, sebagian wilayah lain (seperti Sulawesi dan Maluku) justru perlu mewaspadai curah hujan ekstrem dan banjir.

Tidak perlu panik, tapi jangan terlena

Prediksi iklim mengandung ketidakpastian, terutama untuk rentang lebih dari enam bulan. Karena itu sikap yang tepat bukan panik, tetapi bersiap secara bertahap sambil terus memantau pembaruan resmi dari BMKG.

Yang paling mahal bukan bersiap untuk kemarau yang ternyata ringan. Yang paling mahal adalah tidak bersiap untuk kemarau yang ternyata berat.

Sikap LaporSehat

  1. Mitigasi bagi petani dan rumah tangga miskin. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi gagal panen dan menjaga stabilitas stok pangan, dengan perlindungan khusus bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
  2. Kesiapan layanan kesehatan. Puskesmas di wilayah rawan karhutla perlu disiapkan menghadapi lonjakan ISPA: stok obat, oksigen, masker, dan protokol rujukan.
  3. Sistem informasi kualitas udara yang jujur dan mudah diakses. Warga berhak tahu kondisi udara di wilayahnya secara real-time, tanpa penghalusan.
  4. Penegakan hukum karhutla. Pencegahan kebakaran jauh lebih murah daripada menangani dampak kesehatannya. Kabut asap mungkin tersapu hujan, tetapi dampak kesehatannya bertahan lama.
  5. Jaminan air bersih sebagai prioritas darurat. Distribusi air bersih ke wilayah krisis harus punya protokol yang aktif sebelum krisis, bukan setelah.
  6. Integrasikan peringatan iklim dan peringatan kesehatan. Informasi BMKG perlu diterjemahkan menjadi himbauan kesehatan yang konkret di tingkat kelurahan dan desa.

Yang bisa kamu lakukan sekarang

  • Mumpung masih ada hujan, mulai menampung air secara bijak. Pastikan wadah tertutup rapat agar tidak menjadi sarang nyamuk DBD. Ini dua manfaat sekaligus.
  • Perbaiki instalasi pipa yang bocor dan mulai kebiasaan hemat air sebelum krisis.
  • Atur stok pangan rumah tangga sebelum harga bergerak naik.
  • Siapkan masker untuk antisipasi polusi asap, dan tingkatkan asupan air putih.
  • Jangan membakar sampah atau lahan. Di musim kering, sekali api berkobar akan sangat sulit dipadamkan.
  • Pantau pembaruan resmi BMKG dan informasi titik panas melalui SiPongi.
  • Terapkan 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang) untuk mencegah DBD.

Krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan. Ini juga persoalan kesehatan, dan yang paling menanggung bebannya adalah warga yang paling sedikit ikut menyebabkannya.

Sumber & catatan: BRIN; BMKG; SiPongi (KLHK); Kemenkes; laporan lapangan dari Riau.

Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

Memuat komentar…

Rilis lainnya