Kelaparan Bukan Bencana Alam: Gaza dan Batas Netralitas Kesehatan
Ratusan ribu orang di Gaza mengalami kelaparan parah. Gudang bantuan penuh di perbatasan sementara truk dibiarkan berhenti. Ini bukan kegagalan panen, melainkan kondisi yang diciptakan dan kesehatan masyarakat tidak bisa netral terhadapnya.
Ratusan ribu orang di Gaza mengalami kelaparan parah. Gudang bantuan penuh di perbatasan sementara truk dibiarkan berhenti. Ini bukan kegagalan panen, melainkan kondisi yang diciptakan dan kesehatan masyarakat tidak bisa netral terhadapnya.
Kelaparan di Gaza bukan akibat dunia kehabisan makanan. Gudang bantuan penuh di perbatasan. Truk-truk berhenti, pintu ditutup.
Data Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang melibatkan WHO, FAO, UNICEF, dan WFP menyatakan lebih dari 500.000 orang di Gaza mengalami kondisi kelaparan parah, dengan proyeksi meningkat menjadi lebih dari 640.000 orang menjelang akhir September 2025.
PBB menyebutnya famine. Sejumlah ahli menyebutnya senjata perang.
Pelapor Khusus PBB untuk Hak atas Pangan, Michael Fakhri, menyatakan tidak ada alasan untuk secara sengaja menghalangi distribusi bantuan kemanusiaan atau menghancurkan kapal penangkap ikan skala kecil, rumah kaca, dan kebun buah di Gaza kecuali untuk mencegah akses masyarakat terhadap makanan.
Direktur Israel dan Palestina di Human Rights Watch, Omar Shakir, menyatakan bahwa penghalangan pasokan makanan dan air bagi penduduk Gaza mencerminkan niat untuk membuat warga sipil kelaparan sebagai metode perang.
Mengapa organisasi kesehatan tidak bisa diam
Ada pandangan bahwa organisasi kesehatan sebaiknya tidak masuk ke persoalan yang dianggap politis.
Kami tidak sependapat. Kelaparan adalah kondisi kesehatan. Ketika kelaparan diciptakan secara sengaja melalui pembatasan akses, ia menjadi persoalan hak atas kesehatan dan hak atas kesehatan adalah alasan keberadaan kami.
Bersikap diam terhadap penghalangan pangan bukanlah netralitas. Itu adalah keberpihakan pada pihak yang menghalangi.
Yang terjadi pada tubuh yang kelaparan panjang
Kelaparan berkepanjangan tidak berhenti ketika makanan akhirnya datang. Justru pada momen itu muncul risiko yang jarang dipahami publik: refeeding syndrome.
Refeeding syndrome adalah kondisi serius yang bisa terjadi ketika orang yang sangat kekurangan gizi mulai makan kembali. Tubuh yang lama kelaparan mengalami perubahan metabolik mendasar; ketika asupan datang tiba-tiba, tubuh "kaget" dan terjadi pergeseran elektrolit yang bisa berakibat fatal.
Yang terjadi di dalam tubuh:
- Kadar fosfat, magnesium, dan kalium turun drastis
- Gangguan irama jantung (aritmia)
- Kesulitan bernapas
- Gangguan saraf dan otak
- Dalam kondisi berat, dapat berujung koma atau kematian
Artinya, bantuan pangan yang datang tanpa pendampingan medis pun bisa berbahaya. Penanganan gizi buruk berat memerlukan protokol khusus: pemberian bertahap, pemantauan elektrolit, dan suplementasi mikronutrien, hal-hal yang membutuhkan tenaga kesehatan, alat, dan obat yang juga sedang dibatasi aksesnya.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting: memulihkan orang dari kelaparan yang diciptakan jauh lebih sulit, lebih lama, dan lebih mahal daripada mencegahnya. Kerusakannya tidak berhenti saat blokade dibuka.
Dampak jangka panjang yang belum dihitung
Bagi anak-anak, kekurangan gizi akut pada periode kritis pertumbuhan meninggalkan konsekuensi yang bertahan seumur hidup: gangguan pertumbuhan, gangguan perkembangan kognitif, dan peningkatan risiko penyakit metabolik di kemudian hari.
Bagi ibu hamil, kekurangan gizi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah yang kemudian melanjutkan siklus ke generasi berikutnya.
Bagi seluruh populasi, sistem kekebalan yang melemah membuat penyakit menular yang biasanya terkendali menjadi mematikan.
Kelaparan yang berlangsung dua tahun akan terbaca dalam data kesehatan Gaza selama puluhan tahun.
Sikap LaporSehat
- Akses kemanusiaan tanpa hambatan. Bantuan pangan, air, obat-obatan, dan bahan bakar harus dapat masuk tanpa dihalangi. Penghalangan bantuan kemanusiaan adalah pelanggaran hukum humaniter internasional.
- Perlindungan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Rumah sakit, ambulans, dan tenaga medis dilindungi hukum internasional dan tidak boleh menjadi sasaran.
- Pemulihan sistem pangan lokal. Perikanan skala kecil, lahan pertanian, dan rumah kaca yang hancur harus dapat dipulihkan. Bantuan darurat bukan pengganti kemampuan warga memberi makan diri sendiri.
- Akuntabilitas. Penggunaan kelaparan sebagai metode perang harus diselidiki dan dipertanggungjawabkan melalui mekanisme hukum internasional.
- Dukungan gizi dengan protokol yang benar. Bantuan kemanusiaan harus mencakup tenaga dan protokol penanganan gizi buruk berat, bukan hanya distribusi kalori.
- Konsistensi. Prinsip yang sama berlaku di mana pun, di Gaza, di Sudan, dan di wilayah mana pun ketika akses pangan dan kesehatan dijadikan alat tekanan.
Yang bisa kamu lakukan
- Sebarkan informasi yang akurat tentang kondisi yang sebenarnya terjadi, bersumber dari lembaga kredibel seperti IPC, WHO, OCHA, dan organisasi hak asasi manusia.
- Salurkan bantuan melalui lembaga yang kredibel dan transparan, yang punya akses nyata ke lapangan dan melaporkan penggunaan dananya.
- Dorong sikap resmi dari pemerintah dan lembaga profesi kesehatan Indonesia.
- Jaga daya tahan perhatianmu. Krisis kemanusiaan yang panjang kehilangan perhatian jauh sebelum ia selesai. Perhatian yang bertahan adalah bentuk dukungan tersendiri.
Kesehatan adalah hak, bukan hadiah yang bisa ditahan. Ketika pangan dan obat dijadikan alat tekanan, yang runtuh bukan hanya tubuh manusia, melainkan juga prinsip yang selama ini kita sepakati bersama tentang batas-batas perang.
Sumber & catatan: Integrated Food Security Phase Classification (IPC); WHO; Human Rights Watch; The Guardian; The Washington Post; AP News.


