Lewati ke konten utama
Kajian18 September 20255 menit baca

Melindungi yang Paling Rentan: Kekerasan, Krisis, dan Kesehatan Jiwa

Kekerasan terhadap balita di daycare, ledakan di sekolah, kekerasan terhadap warga sipil, korban perempuan dalam kecelakaan. Konteksnya berbeda, polanya sama: sistem yang paling gagal melindungi mereka yang paling rentan.

Kekerasan terhadap balita di daycare, ledakan di sekolah, kekerasan terhadap warga sipil, korban perempuan dalam kecelakaan. Konteksnya berbeda, polanya sama: sistem yang paling gagal melindungi mereka yang paling rentan.

Dalam waktu berdekatan, publik dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang tampak tidak berhubungan: kekerasan terhadap balita di sebuah daycare, kecelakaan kereta dengan korban meninggal yang didominasi perempuan, ledakan yang melukai puluhan siswa di lingkungan sekolah, dan rangkaian kekerasan terhadap warga sipil.

Konteksnya berbeda. Tetapi ada satu benang merah: kelompok rentan berada pada risiko yang jauh lebih tinggi, dan sistem perlindungan kita masih bekerja setelah kejadian, bukan sebelumnya.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kekuatan sebuah sistem diukur dari bagaimana ia melindungi yang paling rentan. Dengan ukuran itu, kita masih punya pekerjaan besar.

Ketika ruang aman tidak lagi aman

Daycare seharusnya menjadi ruang paling aman bagi balita. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar tanpa takut.

Pada 7 November 2025, terjadi ledakan yang melukai puluhan siswa di lingkungan Masjid SMA Negeri 72 Jakarta. Di lokasi ditemukan simbol dan frasa yang berkaitan dengan ekstremisme daring, jenis konten yang secara khusus menyasar remaja yang sedang rentan secara emosional dan sosial.

Peristiwa seperti ini meninggalkan jejak yang tidak selesai ketika lukanya sembuh. Saksi dan korban berisiko mengalami trauma, kecemasan, mimpi buruk, dan rasa bersalah yang bertahan lama, termasuk mereka yang tidak terluka secara fisik.

Kekerasan terhadap warga sipil

Data Kontras mencatat dalam periode satu tahun (Juli 2024–Juni 2025) terdapat 602 peristiwa kekerasan yang dilakukan anggota kepolisian, mencakup penembakan, penganiayaan, dan pembubaran paksa aksi. Korbannya beragam: mahasiswa, jurnalis, masyarakat sipil, hingga tenaga kesehatan.

Pada Agustus–September 2025, gelombang aksi massa di berbagai kota menyisakan sejumlah korban jiwa. Sebagian meninggal karena kekerasan langsung, sebagian karena kondisi kesehatan yang memburuk akibat paparan gas air mata.

Kekerasan aparat terhadap warga sipil adalah persoalan kesehatan masyarakat, bukan hanya persoalan hukum. Ia menghasilkan kematian, cedera, dan trauma kolektif dan ia merusak kepercayaan warga terhadap institusi negara, termasuk institusi kesehatan yang berada di bawah payung yang sama.

Memahami mengapa korban sulit pergi

Dalam kasus kekerasan dalam relasi personal, pertanyaan yang paling sering muncul dari publik adalah: "kenapa tidak pergi saja?"

Pertanyaan itu terdengar wajar, tetapi menyimpan penghakiman yang memperberat beban korban.

Psikologi menjelaskan mekanismenya. Ada kondisi yang disebut ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness), keadaan ketika korban merasa usaha apa pun untuk melawan akan sia-sia karena pelaku selalu menguasai keadaan.

Ada pula pola trauma bonding yang berlangsung bertahap:

  1. Love bombing: pelaku membanjiri korban dengan perhatian dan kasih sayang agar merasa dicintai dan percaya sepenuhnya.
  2. Dependency: korban dibuat bergantung secara emosional, sosial, atau finansial, sering disertai isolasi dari keluarga dan teman.
  3. Manipulation: pelaku mengendalikan lewat kebohongan, intimidasi, atau gaslighting hingga korban meragukan dirinya sendiri.
  4. Resignation: korban kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak punya pilihan selain bertahan.
  5. Loss of self: korban kehilangan identitas dan sulit menetapkan batasan yang sehat.
  6. Addiction: meski sadar hubungan itu tidak sehat, korban tetap sulit pergi karena takut, merasa sendirian, dan bergantung pada pelaku.

Memahami pola ini mengubah pertanyaan kita. Bukan lagi "kenapa dia tidak pergi", melainkan "apa yang membuatnya tidak bisa pergi, dan bagaimana kita membantunya".

Korban kekerasan tidak membutuhkan penghakiman. Mereka membutuhkan perlindungan dan dukungan.

Komunikasi publik adalah bagian dari respons kesehatan

Satu hal yang berulang dalam berbagai peristiwa krisis: kemampuan komunikasi publik pejabat sering belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Informasi yang tidak jelas atau tidak empatik meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepercayaan publik dan kepercayaan publik adalah aset yang dibutuhkan untuk apa pun yang harus dilakukan berikutnya, dari evakuasi sampai vaksinasi.

Komunikasi publik yang baik memberikan rasa aman, mencegah misinformasi, dan memastikan orang tahu bagaimana mengakses bantuan. Ini bukan urusan humas. Ini bagian dari respons kesehatan yang menyeluruh.

Sikap LaporSehat

  1. Sistem pengawasan yang lebih kuat pada institusi yang menampung kelompok rentan: daycare, sekolah, panti, dan fasilitas perawatan.
  2. Perlindungan yang berpihak pada kelompok rentan, dengan mekanisme pelaporan yang aman, mudah diakses, dan tidak menempatkan korban dalam risiko lebih besar.
  3. Transparansi dalam penanganan kasus, termasuk kasus yang melibatkan aparat. Akuntabilitas adalah prasyarat kepercayaan publik.
  4. Layanan dukungan psikologis pasca kejadian yang tersedia dan terjangkau bagi korban, saksi, dan keluarga, termasuk di sekolah.
  5. Pelatihan komunikasi krisis yang empatik bagi pejabat publik dan tenaga kesehatan.
  6. Pencegahan sejak awal, bukan hanya respons setelah kejadian. Ini mencakup deteksi dini radikalisasi daring pada remaja, pendidikan relasi sehat, dan penguatan layanan kesehatan jiwa di sekolah.

Kekerasan aparat terhadap warga sipil harus dihentikan. Mereka seharusnya melindungi warga, bukan menjadikan warga korban.

Yang bisa kamu lakukan

Jika kamu mengalami atau menyaksikan kekerasan:

  • Utamakan keselamatan lebih dulu. Menjauh dari situasi berbahaya bukan kelemahan.
  • Dokumentasikan bila memungkinkan dan aman: waktu, tempat, dan kronologi.
  • Cari satu orang yang kamu percaya untuk diberi tahu. Isolasi adalah kondisi yang paling menguntungkan pelaku.

Jika orang terdekatmu mengalaminya:

  • Dengarkan tanpa menghakimi. Hindari pertanyaan "kenapa tidak pergi".
  • Jangan memaksa mengambil keputusan besar dengan cepat. Dukungan yang konsisten lebih berguna daripada desakan.
  • Bantu menghubungkan ke layanan pendampingan psikologis dan bantuan hukum.

Setelah peristiwa traumatis:

  • Sulit tidur, mudah terkejut, mimpi buruk, atau menarik diri adalah reaksi wajar. Kalau berlangsung lebih dari beberapa minggu dan mengganggu aktivitas, itu tanda untuk mencari bantuan profesional.
  • Perhatikan teman yang mulai menarik diri, dan jangan sepelekan sinyal bahaya di media sosial.

Layanan gratis: Konsultasi kesehatan umum dan kesehatan mental tersedia gratis di Rumah Sehat Rakyat Virtual lewat WhatsApp 0851-7510-4544 atau s.id/rsr-wb. Semua orang berhak mendapatkan dukungan mental, termasuk korban dan saksi.

Sumber & catatan: Kontras (laporan kekerasan Juli 2024–Juni 2025); literatur psikologi tentang learned helplessness dan trauma bonding; pemberitaan terkait peristiwa yang disebut.

Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

Memuat komentar…

Rilis lainnya