Lewati ke konten utama
Siaran Pers28 Juli 20254 menit baca

Empati Saja Tidak Cukup: Mengapa Status Darurat Bencana Menentukan Nyawa

Dalam satu minggu bencana ekologis di Sumatera: 836 orang meninggal, 518 hilang, 4,3 juta jiwa terdampak. Tanpa status darurat nasional, distribusi dokter, obat, dan air bersih terhambat koordinasi antar-instansi.

Dalam satu minggu bencana ekologis di Sumatera: 836 orang meninggal, 518 hilang, 4,3 juta jiwa terdampak. Tanpa status darurat nasional, distribusi dokter, obat, dan air bersih terhambat koordinasi antar-instansi.

Bencana ekologis melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam satu minggu, data mencatat:

  • 836 orang meninggal
  • 518 orang hilang
  • 2.717 orang luka-luka
  • 4,3 juta jiwa terdampak
  • 50 kabupaten/kota terkena banjir dan longsor

Ribuan rumah rusak. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal, akses air bersih, dan layanan kesehatan.

Pertanyaan yang kami ajukan saat itu dan yang masih relevan untuk bencana berikutnya adalah mengapa status darurat bencana nasional tidak segera ditetapkan.

Yang terjadi di lapangan ketika status tidak ditetapkan

Bencana besar mengubah persoalan kesehatan dari perawatan menjadi logistik. Pengungsian padat, air bersih minim, sanitasi rusak. Risiko penyakit meningkat cepat: infeksi saluran pernapasan akut, diare, leptospirosis, dan penyakit kulit.

Dalam situasi seperti ini, kecepatan bukan soal semangat, melainkan soal kewenangan.

Dengan status darurat bencana nasional:

  • Mobilisasi BNPB, Kemenkes, TNI, dan Polri berjalan lebih cepat
  • Akses pendanaan langsung tanpa prosedur berlapis
  • Distribusi obat, tenaga medis, dan air bersih diprioritaskan
  • Evakuasi lintas provinsi lebih terkoordinasi
  • Penanganan lebih terpusat dan tidak bergantung pada kapasitas APBD masing-masing daerah

Tanpa status darurat bencana nasional:

  • Bantuan antar-instansi lambat dan terfragmentasi
  • Daerah harus menutup biaya dengan anggaran yang terbatas
  • Penanganan kesehatan sering terlambat, risiko penyakit meningkat
  • Logistik dan evakuasi terhambat koordinasi
  • Korban menunggu lebih lama dan dalam bencana, waktu adalah nyawa

Perbedaannya bukan administratif. Ia menentukan apakah seorang lansia dengan penyakit jantung di tenda pengungsian mendapat obatnya pada hari ketiga atau hari kesepuluh.

Kesehatan bergantung pada hal-hal yang tak terlihat

Bencana mengungkap sesuatu yang mudah dilupakan: kesehatan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan dan obat-obatan. Ia juga bergantung pada listrik, air, jalan, dan sistem yang tetap bekerja saat krisis.

Pemadaman listrik berkepanjangan di Sumatera menunjukkan hal ini dengan jelas. Selama lebih dari 12 jam, sebagian wilayah gelap total. Di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dilaporkan empat warga meninggal dunia akibat keracunan asap genset, sebagian terkait kondisi darurat yang muncul di tengah kekacauan.

Fasilitas kesehatan pun terdampak. Rumah sakit terpaksa mengandalkan genset untuk menopang operasional pelayanan, dan salah satu rumah sakit di Kota Padang mengalami mati listrik selama tiga jam.

Ketika listrik padam berjam-jam saja bisa memicu korban, pertanyaannya wajar: seberapa siap sistem kita menghadapi kondisi darurat yang lebih besar?

Dan dalam situasi darurat, keselamatan tidak seharusnya bergantung pada siapa yang punya cadangan listrik.

Bencana yang berulang, kesiapsiagaan yang tidak menyusul

Pola serupa berulang pada jenis bencana lain. Erupsi Gunung Semeru yang memicu sebaran abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan. Banjir tahunan. Kekeringan yang datang bersamaan dengan El Niño.

Indonesia adalah negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Bencana bukan kejadian luar biasa di sini, ia adalah kondisi yang dapat diprediksi. Karena itu, kesiapsiagaan seharusnya menjadi belanja rutin, bukan respon darurat.

Sikap LaporSehat

  1. Kriteria penetapan status darurat yang jelas dan otomatis. Tetapkan ambang objektif (jumlah korban, luas wilayah terdampak, kapasitas fiskal daerah) yang memicu penetapan status tanpa perlu menunggu tekanan publik.
  2. Klaster kesehatan yang siap sejak hari pertama. Tim medis, obat esensial, air bersih, dan sanitasi harus punya protokol propositioning di wilayah berisiko tinggi.
  3. Ketahanan energi fasilitas kesehatan. Setiap rumah sakit dan puskesmas di wilayah rawan wajib memiliki cadangan daya yang teruji, bukan sekadar tersedia di atas kertas.
  4. Edukasi keselamatan penggunaan genset sebagai bagian dari komunikasi risiko saat pemadaman, keracunan karbon monoksida adalah penyebab kematian yang sepenuhnya bisa dicegah.
  5. Layanan kesehatan jiwa dalam respons bencana, bukan sebagai tambahan di akhir, melainkan bagian dari paket bantuan sejak awal.
  6. Transparansi data korban dan kebutuhan, diperbarui berkala agar bantuan masyarakat dan lembaga tidak salah sasaran.

Data menunjukkan ratusan korban dan jutaan jiwa terdampak. Skalanya nasional, dan negara harus hadir secara nasional. Empati dan belasungkawa saja tidak cukup.

Yang bisa kamu lakukan

Saat bencana terjadi:

  • Salurkan bantuan melalui lembaga yang transparan dan punya akses lapangan. Uang tunai umumnya lebih berguna daripada barang, karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan riil.
  • Sebarkan informasi yang terverifikasi. Misinformasi saat bencana menghambat penanganan.

Saat pemadaman listrik atau menggunakan genset:

  • Jangan pernah menyalakan genset di dalam ruangan, garasi tertutup, atau dekat jendela dan ventilasi. Asapnya mengandung karbon monoksida yang tidak berbau dan mematikan.
  • Kalau muncul pusing, mual, atau sakit kepala saat genset menyala, segera keluar ke udara terbuka dan cari bantuan.

Untuk kesiapsiagaan:

  • Siapkan tas siaga bencana: dokumen penting, obat rutin, air, senter, dan nomor kontak darurat.
  • Kalau ada anggota keluarga dengan penyakit kronis, siapkan stok obat dan salinan resep.

Layanan gratis: Konsultasi kesehatan dan konseling untuk warga terdampak bencana tersedia gratis di Rumah Sehat Rakyat Virtual lewat WhatsApp 0851-7510-4544.

Sumber & catatan: Data korban dari laporan resmi penanganan bencana; CNN Indonesia; detik.com; hantaran.co.

Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

Memuat komentar…

Rilis lainnya